Media hiburan memiliki fungsi propaganda yang sangat kuat
terhadap masyarakat. Salah satu teori dalam Ilmu komunikasi klasik, yang mendukung propaganda melalui media,
termasuk media hiburan adalah teori jarum suntik (hypodermic needle theory).
Teori tersebut memfungsikan media agar berefek langsung
terhadap masyarakat yang mengonsumsinya. Sebut saja film, sebagai salah satu
media hiburan, sekali saja menyaksikannya, penonton langsung terkena pengaruhnya. Sama
seperti cara kerja jarum suntik yang ditusukkan dokter kepada pasiennya. Jarum
suntik langsung menembus kulit, lalu cairan obat -bahkan racun- segera menyebar ke sekujur
tubuh pasien.
Ini berlaku juga pada film-film superhero asal Amerika
Serikat yang sedang digandrungi masyarakat di seluruh dunia, tak terkecuali di
Indonesia. Tua muda saling berebut kesempatan untuk bisa menyaksikan aksi
jagoannya itu, baik di layar kaca (tv) maupun di layar lebar (bioskop). Seperti
yang baru saja tayang di awal tahun ini, muncullah Robocop 2014 yang mulai
bertransformasi dari sekadar polisi New York menjadi pahlawan anti-terorisme
skala dunia. Film ini secara umum hendak menyuntikkan racun hegemoni barat
mengenai “dehumanisasi” aparat keamanan AS (baca: kasus Ferguson), dan secara
khusus membidik Ummat Islam sebagai musuh dunia, seperti biasanya. Lagi-lagi superhero mereka adlah pahlawan Islamophobia.
Pada versi kali ini, Robocop tidak tampil sebagai polisi
bersahaja yang dioperasi menjadi semi-cyborg guna kepentingan pengamanan kota
New York dengan bantuan para ilmuwan pengembang teknologi, seperti pada versi
jaman kita remaja dulu di era 90-an. Pada versi baru, Robocop memiliki
jangkauan tugas yang lebih luas lagi, hingga memberantas teroris di Iran.
Berbicara tentang terorisme, dapat kita tebak siapakah
teroris yang didefinisikan naskah Robocop seperti di dunia nyata. Ya, teroris
yang dimaksud sebagai musuh dunia itu adalah sesuai dengan labelling AS
terhadap Ummat Islam (baca: demonologi Islam).
Racun jarum suntik yang dimanfaatkan sutradara AS -Jose Padilha-
kali ini adalah pencitraan buruk Islam. Hal itu sudah sangat kentara sejak
adegan pembuka film ini. Dengan menjadikan adegan penggagalan misi teror di Teheran
di awal cerita yang diliput live oleh salah satu stasiun tv AS, Robocop 2014 berhasil menampilkan bahwa Iran adalah negara
Muslim. Padahal, sejatinya Iran adalah negara syiah yang memusuhi Ummat Islam
sejak masa pasca peristiwa tahkim (baca: Gerakan Pemikiran dan Keagamaan, WAMY),
dan syiah Rafidhoh yang kini dianut Iran bukanlah salah satu madzhab agama Islam. Lagi-lagi ini
merupakan bentuk propaganda AS kepada dunia bahwa Iran adalah juga musuh utama
AS, yang sebenarnya sama-sama penjajah Muslimin sedunia.
Selain itu, pada setting Teheran, terdapat adegan pelecehan
terhadap tokoh wanita Iran yang "dicitrakan" sebagai
"Muslimah". Robot-robot Omnicorp ED-9 –perusahaan keamanan masa depan- itu
secara gamblang memindai “bagian dalam” tubuh kaum wanita itu. Jelas sekali ini
menamakkan lekuk tubuh wanita yang tergolong aurat. Ini sama seperti “menelanjangi
kaum wanita”. Sungguh sebuah pelecehan terhadap kaum wanita oleh robot-robot
keamanan!
Tak cukup sampai disana, adegan para pria Teheran yang
mengusung ide “jihad”, didiktekan Jose Padilha sebagai radikalisme. Dengan
dangkal sineas Hollywood ini memotret “Mujahidin” sebagai orang-orang yang ingin
melakukan aksi heroik di depan kamera agar masuk liputan televisi. Penonton
yang cerdas tentu akan menilai bahwa pembuat naskah Robocop 2014 sangat kurang
membaca koran dan berita mengenai visi dan misi serta nilai militansi “Mujahidin”
sesungguhnya, yang lebih dari sekadar ingin masuk tv.
Lebih ironis lagi saat lafadz “takbir” dijadikan simbol penyulut
semangat para pria Teheran sebelum melakukan aksinya. Betapa kemahabesaran
Allah demikian murahnya dipermainkan para sineas Hollywood untuk melakukan propaganda
penyetanan Islam dengan segala atributnya. Hingga para lelaki berpeci –tanpa pandang
usia, termasuk remaja- yang kedapatan memegang segala yang dianggap sebagai
senjata, sekalipun hanya sebilah pisau dapur, akan langsung terdeteksi sebagai “orang
yang membahayakan” oleh robot-robot Omnicorp, sehingga dapat didor kapan saja sesuka hati. Bukankah ini sebuah bentuk “profiling”
yang keliru seperti yang menjadi kesalahan paling sering dilakukan
polisi-polisi AS saat ini? Dengan target steriotyping, aparat keamanan dapat melakukan
tindakan langsung di tempat kepada tersangka atas dasar dzon atau prasangka
pribadi, yang tentu saja didominasi unsur rasisme dan sentimen agama
(Islamophobia).
Selain itu, pembuatan ulang Robocop dengan menambah
embel-embel 2014 ini menyuntik penonton dengan dosis propaganda lebih kuat
lagi, bahwa “gun-shoot solution” adalah pemecahan masalah dari segala hal yang
dianggap mengancam keamanan masyarakat, seperti versi sebelumnya. “Tembak dan selesai” adalah racun yang
terus berulang dijalarkan sineas AS kepada penonton film-film laganya, sejak Uni Soviet masih menjadi musuh utamanya di film-film tahun 80-an.
Tentu saja ini tidak direkomendasikan untuk ditonton
anak-anak kita. Jangan sampai AS menguatkan cengkramannya di akal generasi
Muslim selanjutnya, seperti yang dilakukan Robocop versi pendahulunya hingga
kini. Cukuplah siklus pelecehan terhadap Islam ini terpotong sampai disini,
agar tidak ada lagi generasi yang tergila-gila akan robot buatan Hollywood sebagai
idolanya.
Sebagai orang tua, sangatlah penting menekankan bahwa semua
superhero yang terdapat di tv atau bioskop itu memang “nampak baik”, namun
sejatinya mereka hanya tokoh khayalan saja. Tanpa mengurangi daya imajinasi
masyarakat, khususnya penonton awam, mengingatkan kembali Rasulullah shalallahu
‘alayhi wasallam sebagai tokoh nyata pembela kebenaran rahmatan lil ‘alamin
adalah kuncinya. Mari kita ingatkan kembali kepada diri dan siapa saja, bahwa
selain memusnahkan kejahatan, Rasulullah juga mengubah para pelaku kebatilan
itu menjadi baik dengan jalan berdakwah, seperti yang berlaku pada Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan banyak lagi. Masih ada jalan untuk menstabilkan kembali keamanan
dan menciptakan kedamaian di muka bumi ini, selain dengan mengangkat senjata,
yakni dengan menunjukkan jalan hidayah-Nya.
Pun jika saatnya berperang fisik tiba, yakinlah, bahwa para pejuang Islam memiliki kekuatan yang
lebih hebat daripada sekadar Robocop 2014, sebagaimana yang Allah Jala Jalaluh
firmankan dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 65, bahwa:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ
يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ
مِئَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang.
Jika ada dua puluh orang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar itu
ada di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu daripada orang
kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”
Maasyaa Allah, maka kesabaran adalah kunci kekuatan seorang
Mujahid Islam. Solusi senjata secanggih apapun tanpa kestabilan emosi, ilmu dan iman, maka
pasukan itu tidak ada nilainya sama sekali di Mata Allah subhanahu wata’ala.
Dan, sekali lagi dengan Qur'an terpatahkanlah satu lagi jarum suntik Hollywood dengan mudahnya. Alhamdulillah. Wallahua’lam bish shawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar