Video: Selamatkan Negeri Kinanah!
Berikut adalah penjelasan Ustadz Budi Ashari,Lc. dalam episode perdana Sentuhan Siroh, produksi AlFatih.TV. Semoga menjadi ibroh bagi kita dan dapat melandasi amal kita selaku Ummat Islam dalam membantu penyelamatan Negeri Kinanah. Aammin.
Taman Ibroh
tempat anda menikmati indahnya kebenaran
Minggu, 04 Januari 2015
Jumat, 19 Desember 2014
Robocop 2014, pahlawan islamophobia
Media hiburan memiliki fungsi propaganda yang sangat kuat
terhadap masyarakat. Salah satu teori dalam Ilmu komunikasi klasik, yang mendukung propaganda melalui media,
termasuk media hiburan adalah teori jarum suntik (hypodermic needle theory).
Teori tersebut memfungsikan media agar berefek langsung
terhadap masyarakat yang mengonsumsinya. Sebut saja film, sebagai salah satu
media hiburan, sekali saja menyaksikannya, penonton langsung terkena pengaruhnya. Sama
seperti cara kerja jarum suntik yang ditusukkan dokter kepada pasiennya. Jarum
suntik langsung menembus kulit, lalu cairan obat -bahkan racun- segera menyebar ke sekujur
tubuh pasien.
Ini berlaku juga pada film-film superhero asal Amerika
Serikat yang sedang digandrungi masyarakat di seluruh dunia, tak terkecuali di
Indonesia. Tua muda saling berebut kesempatan untuk bisa menyaksikan aksi
jagoannya itu, baik di layar kaca (tv) maupun di layar lebar (bioskop). Seperti
yang baru saja tayang di awal tahun ini, muncullah Robocop 2014 yang mulai
bertransformasi dari sekadar polisi New York menjadi pahlawan anti-terorisme
skala dunia. Film ini secara umum hendak menyuntikkan racun hegemoni barat
mengenai “dehumanisasi” aparat keamanan AS (baca: kasus Ferguson), dan secara
khusus membidik Ummat Islam sebagai musuh dunia, seperti biasanya. Lagi-lagi superhero mereka adlah pahlawan Islamophobia.
Pada versi kali ini, Robocop tidak tampil sebagai polisi
bersahaja yang dioperasi menjadi semi-cyborg guna kepentingan pengamanan kota
New York dengan bantuan para ilmuwan pengembang teknologi, seperti pada versi
jaman kita remaja dulu di era 90-an. Pada versi baru, Robocop memiliki
jangkauan tugas yang lebih luas lagi, hingga memberantas teroris di Iran.
Berbicara tentang terorisme, dapat kita tebak siapakah
teroris yang didefinisikan naskah Robocop seperti di dunia nyata. Ya, teroris
yang dimaksud sebagai musuh dunia itu adalah sesuai dengan labelling AS
terhadap Ummat Islam (baca: demonologi Islam).
Racun jarum suntik yang dimanfaatkan sutradara AS -Jose Padilha-
kali ini adalah pencitraan buruk Islam. Hal itu sudah sangat kentara sejak
adegan pembuka film ini. Dengan menjadikan adegan penggagalan misi teror di Teheran
di awal cerita yang diliput live oleh salah satu stasiun tv AS, Robocop 2014 berhasil menampilkan bahwa Iran adalah negara
Muslim. Padahal, sejatinya Iran adalah negara syiah yang memusuhi Ummat Islam
sejak masa pasca peristiwa tahkim (baca: Gerakan Pemikiran dan Keagamaan, WAMY),
dan syiah Rafidhoh yang kini dianut Iran bukanlah salah satu madzhab agama Islam. Lagi-lagi ini
merupakan bentuk propaganda AS kepada dunia bahwa Iran adalah juga musuh utama
AS, yang sebenarnya sama-sama penjajah Muslimin sedunia.
Selain itu, pada setting Teheran, terdapat adegan pelecehan
terhadap tokoh wanita Iran yang "dicitrakan" sebagai
"Muslimah". Robot-robot Omnicorp ED-9 –perusahaan keamanan masa depan- itu
secara gamblang memindai “bagian dalam” tubuh kaum wanita itu. Jelas sekali ini
menamakkan lekuk tubuh wanita yang tergolong aurat. Ini sama seperti “menelanjangi
kaum wanita”. Sungguh sebuah pelecehan terhadap kaum wanita oleh robot-robot
keamanan!
Tak cukup sampai disana, adegan para pria Teheran yang
mengusung ide “jihad”, didiktekan Jose Padilha sebagai radikalisme. Dengan
dangkal sineas Hollywood ini memotret “Mujahidin” sebagai orang-orang yang ingin
melakukan aksi heroik di depan kamera agar masuk liputan televisi. Penonton
yang cerdas tentu akan menilai bahwa pembuat naskah Robocop 2014 sangat kurang
membaca koran dan berita mengenai visi dan misi serta nilai militansi “Mujahidin”
sesungguhnya, yang lebih dari sekadar ingin masuk tv.
Lebih ironis lagi saat lafadz “takbir” dijadikan simbol penyulut
semangat para pria Teheran sebelum melakukan aksinya. Betapa kemahabesaran
Allah demikian murahnya dipermainkan para sineas Hollywood untuk melakukan propaganda
penyetanan Islam dengan segala atributnya. Hingga para lelaki berpeci –tanpa pandang
usia, termasuk remaja- yang kedapatan memegang segala yang dianggap sebagai
senjata, sekalipun hanya sebilah pisau dapur, akan langsung terdeteksi sebagai “orang
yang membahayakan” oleh robot-robot Omnicorp, sehingga dapat didor kapan saja sesuka hati. Bukankah ini sebuah bentuk “profiling”
yang keliru seperti yang menjadi kesalahan paling sering dilakukan
polisi-polisi AS saat ini? Dengan target steriotyping, aparat keamanan dapat melakukan
tindakan langsung di tempat kepada tersangka atas dasar dzon atau prasangka
pribadi, yang tentu saja didominasi unsur rasisme dan sentimen agama
(Islamophobia).
Selain itu, pembuatan ulang Robocop dengan menambah
embel-embel 2014 ini menyuntik penonton dengan dosis propaganda lebih kuat
lagi, bahwa “gun-shoot solution” adalah pemecahan masalah dari segala hal yang
dianggap mengancam keamanan masyarakat, seperti versi sebelumnya. “Tembak dan selesai” adalah racun yang
terus berulang dijalarkan sineas AS kepada penonton film-film laganya, sejak Uni Soviet masih menjadi musuh utamanya di film-film tahun 80-an.
Tentu saja ini tidak direkomendasikan untuk ditonton
anak-anak kita. Jangan sampai AS menguatkan cengkramannya di akal generasi
Muslim selanjutnya, seperti yang dilakukan Robocop versi pendahulunya hingga
kini. Cukuplah siklus pelecehan terhadap Islam ini terpotong sampai disini,
agar tidak ada lagi generasi yang tergila-gila akan robot buatan Hollywood sebagai
idolanya.
Sebagai orang tua, sangatlah penting menekankan bahwa semua
superhero yang terdapat di tv atau bioskop itu memang “nampak baik”, namun
sejatinya mereka hanya tokoh khayalan saja. Tanpa mengurangi daya imajinasi
masyarakat, khususnya penonton awam, mengingatkan kembali Rasulullah shalallahu
‘alayhi wasallam sebagai tokoh nyata pembela kebenaran rahmatan lil ‘alamin
adalah kuncinya. Mari kita ingatkan kembali kepada diri dan siapa saja, bahwa
selain memusnahkan kejahatan, Rasulullah juga mengubah para pelaku kebatilan
itu menjadi baik dengan jalan berdakwah, seperti yang berlaku pada Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan banyak lagi. Masih ada jalan untuk menstabilkan kembali keamanan
dan menciptakan kedamaian di muka bumi ini, selain dengan mengangkat senjata,
yakni dengan menunjukkan jalan hidayah-Nya.
Pun jika saatnya berperang fisik tiba, yakinlah, bahwa para pejuang Islam memiliki kekuatan yang
lebih hebat daripada sekadar Robocop 2014, sebagaimana yang Allah Jala Jalaluh
firmankan dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 65, bahwa:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ
يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ
مِئَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang.
Jika ada dua puluh orang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar itu
ada di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu daripada orang
kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”
Maasyaa Allah, maka kesabaran adalah kunci kekuatan seorang
Mujahid Islam. Solusi senjata secanggih apapun tanpa kestabilan emosi, ilmu dan iman, maka
pasukan itu tidak ada nilainya sama sekali di Mata Allah subhanahu wata’ala.
Dan, sekali lagi dengan Qur'an terpatahkanlah satu lagi jarum suntik Hollywood dengan mudahnya. Alhamdulillah. Wallahua’lam bish shawab.
Sabtu, 06 Desember 2014
Sekulerisasi di balik pengosongan kolom agama di KTP
Alasan pengosongan kolom agama di KTP ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan masyarakat awam. Kepada Kiblat.net, Direktur An-Nasr Institute, Munarman SH. menyatakan bahwa ada motif sekulerisasi Indonesia di balik gagasan tersebut, Sabtu (29/12/2014).
Jika kita kaitkan dengan insiden penyerbuan musholla di Riau, penembakan gas air mata yang ditargetkan kepada mahasiswa yang dianggap bersembunyi di sebuah Masjid di Makassar, kemudian pengaturan isi ceramah agama, maka jelas agama dianggap "oposisi" negara. Menurut Munarman, itulah indikasi-indikasi sekulerisasi yang sangat jelas.
“Ini kan berarti agama dianggap ancaman bagi negara. Ini merupakan paradigma negara-negara kristen di Eropa dulu. Ketika agama Kristen dianggap ancaman bagi negara sekuler mereka,” jelas mantan aktivis LBH Jakarta ini kepada Kiblat.net, Sabtu (29/11) lalu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq, Otista, Jakarta.
Terkait wacana pengosongan kolom agama di KTP Munawarman berpandangan bahwa hal itu sebenarnya dilakukan untuk mengkaburkan data statistik jumlah umat Islam di Indonesia.
“Kalau jumlah umat Islam tidak jelas diketahui, maka tidak ada kewajiban bagi negara untuk memberikan pelayanan untuk memberikan fasilitas-fasilitas. Sekarang ini kan yang ada kalau kita perhatikan di APBD-APBD masih ada bantuan untuk pembangunan masjid, pesantren, kalau jumlah umat Islam secara statistik tidak diketahui, kan tidak ada kewajiban negara,” paparnya.
Bang Maman, begitu sapaan dekatnya, berpendapat ada agenda besar bersembunyi di balik rezim Jokowi menyangkut perkara tersebut. Dengan halus dan sistemik mereka akan melakukan beberapa tahap. “Satu, karena mereka sedang berkuasa secara administrasi kependudukan mereka akan menghapus data statistik,” jelasnya.
“Yang kedua, secara kebijakan mereka akan mengeluarkan produk perundang-undangan berupa pengawasan terhadap dai-dai dengan cara mengatur materi-materi khutbahnya,” tambah Bang Maman.
Ketiga, mereka mengondisikan aparat keaman negara untuk "terbiasa melanggar nilai penghormatan" terhadap masjid sebagai rumah ibadah kaum Muslimin. Dengan kata lain, Rezim Jokowi sengaja memberi ruang atau motivasi kepada aparat hukumnya dalam hal ini adalah kepolisian untuk mengacak-acak masjid.
“Jadi, di belakang penguasa negara ini kan ada kekuatan besar. Sebetulnya yang mereka perkirakan, kekuatan kafir ini akan mampu mengendalikan Indonesia. Saya kira target mereka itu begitu, dengan cara menggunakan tangan-tangan kekuasaan,” pungkasnya.
Ibroh KTP tanpa kolom agama
Maka, terlepas dari siapa "invisible hands" di balik rezim Jokowi, masyarakat jadi harus semakin menguatkan keimanan. Dalam fungsinya sebagai alat kelengkapan administrasi pernikahan misalnya, KTP tanpa kolom agama memberi ibroh tersendiri bagi Ummat Islam.
Sebagai contoh, para orang tua menjadi tertantang untuk lebih selektif memilih calon mantunya, dengan menyelidiki bagaimana ibadah keseharian calon mantunya, jika suatu saat tak ada keterangan agama pada KTP sang pujaan hati anaknya. Jadi, mau tak mau, tidak akan ada lagi istilah "Islam KTP". Setiap orang akan lebih mempertanggungjawabkan keislamannya -meski sekadar ibadah ritual- minimal di hadapan orang di sekitarnya, jika ingin mendapatkan predikat sebagai seorang Muslim di mata manusia.
Tak hanya itu, dengan ini, Muslim sejati akan semakin sangat hati-hati memilih siapa kawan, mitra kerja, bahkan asisten rumah tangganya. Pun sebagai anak bangsa, tentu kita tidak mau mengabaikan perjuangan para Muslim pendahulu yang telah memperjuangkan pengarusutamaan agama agar masuk ke dalam undang-undang yang mengatur administrasi kependudukan di Indonesia. Mari pertahankan hasil perjuangan mereka, jadilah bagian dari perjuangan Muslimin Indonesia sebelum kita.
Allahu akbar, selalu ada hikmah di balik setiap fenomena yang Allah taqdirkan kepada hamba-Nya. Laa hawla walaa quwwata illa billah.
Senin, 10 November 2014
Televisi senjata ampuh merusak generasi
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Televisi (TV) bukan barang langka di Indonesia. Hampir di setiap rumah, dari kota besar hingga pelosok desa, terdapat layar bising berbunyi itu. Sepertinya TV menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak dapat dielakan lagi.
Apakah TV sedemikian baik, hingga masyarakat rela merogoh kocek untuk membelinya atau mencicilnya? Orang bilang TV dapat menghibur dan menjadikan pendidikan mudah diakses kapan saja. Ada pula yang mengaku TV dapat membuka dunia baru untuk pemirsa, memberi mereka kesempatan untuk melihat dunia. Dari TV penonton juga dapat belajar tentang budaya yang berbeda, dan mendapatkan paparan ide-ide langka.
Ya, memang jika TV ditonton secara proposional dapat memiliki efek positif pada kehidupan pemirsa. Acara yang memberi teladan peran positif dapat mempengaruhi pemirsa untuk membuat perubahan gaya hidup menjadi positif. Namun, sebaliknya TV juga memberi efek merusak yang luar biasa. Kehidupan pemirsa bisa dipastikan lebih tidak produktif. Penonton menjadi terlena dengan sisi hiburan tinimbang mempelajari hikmah dari apa yang ditayangkan. TV juga dapat mempengaruhi 'kesehatan, perilaku dan kehidupan keluarga dengan cara negatif', sebagaimana dilaporkan para peneliti di Universitas Michigan dalam 10 tahun terakhir.
Maka benarlah firman Allah ta'ala yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alayhi wasallam 1400 tahun yang lalu bahwa,
"Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.” (QS. al-Isra’: 26 – 27)
Kata tabdzir merupakan sikap dan perbuatan berrlebih-lebihan dalam hal harta, sedangkan pelakunya disebut mubazir (Tafsir Zadul Masir, 3:20).
Jika harta kita dudukkan sama pentingnya dengan waktu, maka menghabiskan waktu secara berlebihan untuk menonton televisi juga merupakan fenomena tabdzir. Sebagai mubadzir waktu, pengguna TV menjadi enggan beribadah, melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada sesama mahluk dan kepada Penciptanya. Inilah yang menjadikan manusia pelaku tabdzir dikatakan sebagai temannya setan, sebab perilakunya berubah menjadi terlena dan kian menjauhi perintah Allah. Semoga ayat ini dapat kita jadikan landasan kita untuk berpikir tentang apa peran yang kita inginkan dari TV, baik sebagai individu maupun dalam bermasyarakat.
Sementara itu, para peneliti telah mempelajari bagaimana TV mempengaruhi pola tidur penggunanya, berat badan, nilai hidup, perilaku, dan banyak lagi. Setelah penonton menghabiskan waktu menonton TV beberapa jam setiap hari, dapat dipastikan dia juga menjadi kehilangan waktu untuk melakukan kegiatan sosial, seperti aktif berkegiatan di luar (alam) dengan keluarga atau sebayanya. Dia juga menjadi enggan makan bersama di ruang makan, atau membaca bersama orang-orang di sekitarnya. TV benar-benar menjauhkan penggunanya dari berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, musik, seni atau aktivitas lain yang mengolah fisik dan perasaan secara aktif. Yang terparah adalah dia kehilangan hasrat untuk melaksanakan kegiatan relijius. Dampak ini juga berlaku bagi mereka yang kerajingan menonton DVD dan bentuk visual digital lainnya, seperti saluran TV kabel secara berlebihan.
Perlu diingat, apa yang terjadi pada penelitian di Universitas Michigan tersebut juga kita dapati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bayangkan, tak hanya fisik dan mental penonton saja yang terkena imbas buruknya, namun hasrat untuk melaksanakan ibadah pun turut tergerus. Lantas Muslim yang mana yang paling terpapar bahaya "layar setan" ini?
Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2025, BPS, BAPPENAS, UNFPA, remaja merupakan populasi terbesar di Indonesia. Jumlah remaja dengan rentang usia 10 – 24 tahun mencapai 64 juta pada tahun 2007 atau 28,64% dari jumlah penduduk Indonesia.
Dengan demikian, saat ini terdapat lebih dari 64 juta generasi muda Muslim yang terancam akan kehilangan hasrat untuk sholat fardhu 5 waktu, sebab acara yang menarik sengaja diputar pada jam-jam waktu shalat. Jika shalat adalah tiang agama, maka remaja Muslim yang kecanduan TV tak mungkin dapat menjaga tiang agamanya tegak di muka bumi. Jika kecanduan akan TV menjauhkan penonton di barat dari buku, apatah lagi di Indonesia. Bisa-bisa remaja tak hanya jauh dari buku, mereka juga dijauhkan dari Al-Qur'an, buku panduan hidupnya. Jika remaja tergila-gila akan TV, dapat dipastikan Rasulullah shalallahu'alayhi wasallam tidak lagi menjadi idolanya.
Dengan propaganda melalui tayangan TV, sholat tergantikan oleh ritual memencet remote televisi sambil memelototi layar kaca. Dengan dicekoki acara TV, tilawah Qur'an menjadi kegiatan ibadah yang dianggap basi. Dengan mengidolakan artis-artis di TV, remaja pun kehilangan identitasnya sebagai manusia yang shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah, sebagaimana pribadi Nabi kekasih Ilahy.
Hal tersebut didukung oleh laporan penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) bahwa, penonton yang terpapar tayangan TV secara berkelanjutan, terbukti meningkat perilaku merusaknya, disertai tindakan penuh kekerasan. Remaja mengikuti perilaku merokok, meminum minuman keras, mempraktikkan seks bebas dan melakukan kekerasan terhadap orang lain dengan motivasi yang dicontohkan melalui adegan di acara televisi.
Keampuhan televisi sebagai senjata perusak generasi pun kini telah benar-benar terbukti di Indonesia, sesuai hasil survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) sejak tahun 2007, terdapat kasus terkait NAPZA terinspirasi televisi yang terjadi pada remaja, diantaranya adalah meningkatnya perokok aktif hingga 47 %, peminum alkohol aktif 19,2 % dari populasi remaja secara total. Sedangkan jumlah remaja yang hidup dengan HIV dan AIDS sampai dengan bulan Maret 2010 mencapai 54,3% dari 20.564 kasus. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan komplikasi secara fisik, mental, emosional dan sosial.
Selain itu, permasalahan seksual pada remaja berdasarkan survei Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 Provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7 % remaja SMP tidak perawan. Sementara menurut Kepala BKKBN Pusat Sugiri Syarif tahun 2009, 22,6 % remaja termasuk penganut seks bebas. Perilaku tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan remaja itu sendiri misalnya Penyakit Menular Seksual ( PMS ), HIV/AIDS dan Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Akibat yang terjadi dari kehamilan yang tidak diinginkan salah satunya adalah aborsi.
Berdasarkan data Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2008 didapatkan tidak kurang dari 2,5 juta kasus aborsi ditemukan di Indonesia setiap tahunnya. Ironisnya pelaku aborsi 21,2 % adalah remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman. Sekitar 30-35 % aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu. Astaghfirullah, inilah potret kehancuran sebuah generasi bangsa, yang disinyalir terinspirasi adegan-adegan di televisi, sungguh tidak beruntung.
Maka saatnya kita kembali kepada hakikat tujuan kita sebagai hamba, yakni beriman kepada Allah azza wajalla. Mari kita kembali menjadi mu'min (orang beriman) yang beruntung, yang tidak kepada TV selalunya bergantung. Sebagaimana yang dicirikan dalam QS. Al-Mu'minun ayat 1-11, inilah orang-orang yang beruntung:
(1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.
ٱلَّذينَ هُمْ في صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
(2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sholat.
وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ
(3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.
وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ
(4) Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.
وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ
(5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.
إِلاَّ عَلى أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ
(6) Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.
فَمَنِ ابْتَغى وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ
(7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar garis.
وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ
(8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.
وَ الَّذينَ هُمْ عَلى صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ
(9) Dan orang-orang yang memelihara dan menjaga semua waktu sholatnya.
أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ
(10) Mereka itulah yang akan mewarisi.
ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ
(11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selamalamanya.
Waallahua'lam bishowab.
Televisi (TV) bukan barang langka di Indonesia. Hampir di setiap rumah, dari kota besar hingga pelosok desa, terdapat layar bising berbunyi itu. Sepertinya TV menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak dapat dielakan lagi.
Apakah TV sedemikian baik, hingga masyarakat rela merogoh kocek untuk membelinya atau mencicilnya? Orang bilang TV dapat menghibur dan menjadikan pendidikan mudah diakses kapan saja. Ada pula yang mengaku TV dapat membuka dunia baru untuk pemirsa, memberi mereka kesempatan untuk melihat dunia. Dari TV penonton juga dapat belajar tentang budaya yang berbeda, dan mendapatkan paparan ide-ide langka.
Ya, memang jika TV ditonton secara proposional dapat memiliki efek positif pada kehidupan pemirsa. Acara yang memberi teladan peran positif dapat mempengaruhi pemirsa untuk membuat perubahan gaya hidup menjadi positif. Namun, sebaliknya TV juga memberi efek merusak yang luar biasa. Kehidupan pemirsa bisa dipastikan lebih tidak produktif. Penonton menjadi terlena dengan sisi hiburan tinimbang mempelajari hikmah dari apa yang ditayangkan. TV juga dapat mempengaruhi 'kesehatan, perilaku dan kehidupan keluarga dengan cara negatif', sebagaimana dilaporkan para peneliti di Universitas Michigan dalam 10 tahun terakhir.
Maka benarlah firman Allah ta'ala yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alayhi wasallam 1400 tahun yang lalu bahwa,
(27) وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
"Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.” (QS. al-Isra’: 26 – 27)
Kata tabdzir merupakan sikap dan perbuatan berrlebih-lebihan dalam hal harta, sedangkan pelakunya disebut mubazir (Tafsir Zadul Masir, 3:20).
Jika harta kita dudukkan sama pentingnya dengan waktu, maka menghabiskan waktu secara berlebihan untuk menonton televisi juga merupakan fenomena tabdzir. Sebagai mubadzir waktu, pengguna TV menjadi enggan beribadah, melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada sesama mahluk dan kepada Penciptanya. Inilah yang menjadikan manusia pelaku tabdzir dikatakan sebagai temannya setan, sebab perilakunya berubah menjadi terlena dan kian menjauhi perintah Allah. Semoga ayat ini dapat kita jadikan landasan kita untuk berpikir tentang apa peran yang kita inginkan dari TV, baik sebagai individu maupun dalam bermasyarakat.
Sementara itu, para peneliti telah mempelajari bagaimana TV mempengaruhi pola tidur penggunanya, berat badan, nilai hidup, perilaku, dan banyak lagi. Setelah penonton menghabiskan waktu menonton TV beberapa jam setiap hari, dapat dipastikan dia juga menjadi kehilangan waktu untuk melakukan kegiatan sosial, seperti aktif berkegiatan di luar (alam) dengan keluarga atau sebayanya. Dia juga menjadi enggan makan bersama di ruang makan, atau membaca bersama orang-orang di sekitarnya. TV benar-benar menjauhkan penggunanya dari berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, musik, seni atau aktivitas lain yang mengolah fisik dan perasaan secara aktif. Yang terparah adalah dia kehilangan hasrat untuk melaksanakan kegiatan relijius. Dampak ini juga berlaku bagi mereka yang kerajingan menonton DVD dan bentuk visual digital lainnya, seperti saluran TV kabel secara berlebihan.
Perlu diingat, apa yang terjadi pada penelitian di Universitas Michigan tersebut juga kita dapati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bayangkan, tak hanya fisik dan mental penonton saja yang terkena imbas buruknya, namun hasrat untuk melaksanakan ibadah pun turut tergerus. Lantas Muslim yang mana yang paling terpapar bahaya "layar setan" ini?
Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2025, BPS, BAPPENAS, UNFPA, remaja merupakan populasi terbesar di Indonesia. Jumlah remaja dengan rentang usia 10 – 24 tahun mencapai 64 juta pada tahun 2007 atau 28,64% dari jumlah penduduk Indonesia.
Dengan demikian, saat ini terdapat lebih dari 64 juta generasi muda Muslim yang terancam akan kehilangan hasrat untuk sholat fardhu 5 waktu, sebab acara yang menarik sengaja diputar pada jam-jam waktu shalat. Jika shalat adalah tiang agama, maka remaja Muslim yang kecanduan TV tak mungkin dapat menjaga tiang agamanya tegak di muka bumi. Jika kecanduan akan TV menjauhkan penonton di barat dari buku, apatah lagi di Indonesia. Bisa-bisa remaja tak hanya jauh dari buku, mereka juga dijauhkan dari Al-Qur'an, buku panduan hidupnya. Jika remaja tergila-gila akan TV, dapat dipastikan Rasulullah shalallahu'alayhi wasallam tidak lagi menjadi idolanya.
Dengan propaganda melalui tayangan TV, sholat tergantikan oleh ritual memencet remote televisi sambil memelototi layar kaca. Dengan dicekoki acara TV, tilawah Qur'an menjadi kegiatan ibadah yang dianggap basi. Dengan mengidolakan artis-artis di TV, remaja pun kehilangan identitasnya sebagai manusia yang shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah, sebagaimana pribadi Nabi kekasih Ilahy.
Hal tersebut didukung oleh laporan penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) bahwa, penonton yang terpapar tayangan TV secara berkelanjutan, terbukti meningkat perilaku merusaknya, disertai tindakan penuh kekerasan. Remaja mengikuti perilaku merokok, meminum minuman keras, mempraktikkan seks bebas dan melakukan kekerasan terhadap orang lain dengan motivasi yang dicontohkan melalui adegan di acara televisi.
Keampuhan televisi sebagai senjata perusak generasi pun kini telah benar-benar terbukti di Indonesia, sesuai hasil survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) sejak tahun 2007, terdapat kasus terkait NAPZA terinspirasi televisi yang terjadi pada remaja, diantaranya adalah meningkatnya perokok aktif hingga 47 %, peminum alkohol aktif 19,2 % dari populasi remaja secara total. Sedangkan jumlah remaja yang hidup dengan HIV dan AIDS sampai dengan bulan Maret 2010 mencapai 54,3% dari 20.564 kasus. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan komplikasi secara fisik, mental, emosional dan sosial.
Selain itu, permasalahan seksual pada remaja berdasarkan survei Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 Provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7 % remaja SMP tidak perawan. Sementara menurut Kepala BKKBN Pusat Sugiri Syarif tahun 2009, 22,6 % remaja termasuk penganut seks bebas. Perilaku tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan remaja itu sendiri misalnya Penyakit Menular Seksual ( PMS ), HIV/AIDS dan Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Akibat yang terjadi dari kehamilan yang tidak diinginkan salah satunya adalah aborsi.
Berdasarkan data Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2008 didapatkan tidak kurang dari 2,5 juta kasus aborsi ditemukan di Indonesia setiap tahunnya. Ironisnya pelaku aborsi 21,2 % adalah remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman. Sekitar 30-35 % aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu. Astaghfirullah, inilah potret kehancuran sebuah generasi bangsa, yang disinyalir terinspirasi adegan-adegan di televisi, sungguh tidak beruntung.
Maka saatnya kita kembali kepada hakikat tujuan kita sebagai hamba, yakni beriman kepada Allah azza wajalla. Mari kita kembali menjadi mu'min (orang beriman) yang beruntung, yang tidak kepada TV selalunya bergantung. Sebagaimana yang dicirikan dalam QS. Al-Mu'minun ayat 1-11, inilah orang-orang yang beruntung:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ
(1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.
ٱلَّذينَ هُمْ في صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
(2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sholat.
وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ
(3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.
وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ
(4) Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.
وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ
(5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.
إِلاَّ عَلى أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ
(6) Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.
فَمَنِ ابْتَغى وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ
(7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar garis.
وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ
(8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.
وَ الَّذينَ هُمْ عَلى صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ
(9) Dan orang-orang yang memelihara dan menjaga semua waktu sholatnya.
أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ
(10) Mereka itulah yang akan mewarisi.
ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ
(11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selamalamanya.
Waallahua'lam bishowab.
Langganan:
Postingan (Atom)


