Jumat, 19 Desember 2014

Robocop 2014, pahlawan islamophobia


Media hiburan memiliki fungsi propaganda yang sangat kuat terhadap masyarakat. Salah satu teori dalam Ilmu komunikasi klasik,  yang mendukung propaganda melalui media, termasuk media hiburan adalah teori jarum suntik (hypodermic needle theory).

Teori tersebut memfungsikan media agar berefek langsung terhadap masyarakat yang mengonsumsinya. Sebut saja film, sebagai salah satu media hiburan, sekali saja menyaksikannya, penonton langsung terkena pengaruhnya. Sama seperti cara kerja jarum suntik yang ditusukkan dokter kepada pasiennya. Jarum suntik langsung menembus kulit, lalu cairan obat -bahkan racun- segera menyebar ke sekujur tubuh pasien.

Ini berlaku juga pada film-film superhero asal Amerika Serikat yang sedang digandrungi masyarakat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tua muda saling berebut kesempatan untuk bisa menyaksikan aksi jagoannya itu, baik di layar kaca (tv) maupun di layar lebar (bioskop). Seperti yang baru saja tayang di awal tahun ini, muncullah Robocop 2014 yang mulai bertransformasi dari sekadar polisi New York menjadi pahlawan anti-terorisme skala dunia. Film ini secara umum hendak menyuntikkan racun hegemoni barat mengenai “dehumanisasi” aparat keamanan AS (baca: kasus Ferguson), dan secara khusus membidik Ummat Islam sebagai musuh dunia, seperti biasanya. Lagi-lagi superhero mereka adlah pahlawan Islamophobia.

Pada versi kali ini, Robocop tidak tampil sebagai polisi bersahaja yang dioperasi menjadi semi-cyborg guna kepentingan pengamanan kota New York dengan bantuan para ilmuwan pengembang teknologi, seperti pada versi jaman kita remaja dulu di era 90-an. Pada versi baru, Robocop memiliki jangkauan tugas yang lebih luas lagi, hingga memberantas teroris di Iran.

Berbicara tentang terorisme, dapat kita tebak siapakah teroris yang didefinisikan naskah Robocop seperti di dunia nyata. Ya, teroris yang dimaksud sebagai musuh dunia itu adalah sesuai dengan labelling AS terhadap Ummat Islam (baca: demonologi Islam).

Racun jarum suntik yang dimanfaatkan sutradara AS -Jose Padilha- kali ini adalah pencitraan buruk Islam. Hal itu sudah sangat kentara sejak adegan pembuka film ini. Dengan menjadikan adegan penggagalan misi teror di Teheran di awal cerita yang diliput live oleh salah satu stasiun tv AS, Robocop 2014 berhasil menampilkan bahwa Iran adalah negara Muslim. Padahal, sejatinya Iran adalah negara syiah yang memusuhi Ummat Islam sejak masa pasca peristiwa tahkim (baca: Gerakan Pemikiran dan Keagamaan, WAMY), dan syiah Rafidhoh yang kini dianut Iran bukanlah salah satu madzhab agama Islam. Lagi-lagi ini merupakan bentuk propaganda AS kepada dunia bahwa Iran adalah juga musuh utama AS, yang sebenarnya sama-sama penjajah Muslimin sedunia.

Selain itu, pada setting Teheran, terdapat adegan pelecehan terhadap tokoh wanita Iran yang "dicitrakan" sebagai "Muslimah". Robot-robot Omnicorp ED-9 –perusahaan keamanan masa depan- itu secara gamblang memindai “bagian dalam” tubuh kaum wanita itu. Jelas sekali ini menamakkan lekuk tubuh wanita yang tergolong aurat. Ini sama seperti “menelanjangi kaum wanita”. Sungguh sebuah pelecehan terhadap kaum wanita oleh robot-robot keamanan!

Tak cukup sampai disana, adegan para pria Teheran yang mengusung ide “jihad”, didiktekan Jose Padilha sebagai radikalisme. Dengan dangkal sineas Hollywood ini memotret “Mujahidin” sebagai orang-orang yang ingin melakukan aksi heroik di depan kamera agar masuk liputan televisi. Penonton yang cerdas tentu akan menilai bahwa pembuat naskah Robocop 2014 sangat kurang membaca koran dan berita mengenai visi dan misi serta nilai militansi “Mujahidin” sesungguhnya, yang lebih dari sekadar ingin masuk tv.

Lebih ironis lagi saat lafadz “takbir” dijadikan simbol penyulut semangat para pria Teheran sebelum melakukan aksinya. Betapa kemahabesaran Allah demikian murahnya dipermainkan para sineas Hollywood untuk melakukan propaganda penyetanan Islam dengan segala atributnya. Hingga para lelaki berpeci –tanpa pandang usia, termasuk remaja- yang kedapatan memegang segala yang dianggap sebagai senjata, sekalipun hanya sebilah pisau dapur, akan langsung terdeteksi sebagai “orang yang membahayakan” oleh robot-robot Omnicorp, sehingga dapat didor kapan saja sesuka hati. Bukankah ini sebuah bentuk “profiling” yang keliru seperti yang menjadi kesalahan paling sering dilakukan polisi-polisi AS saat ini? Dengan target steriotyping, aparat keamanan dapat melakukan tindakan langsung di tempat kepada tersangka atas dasar dzon atau prasangka pribadi, yang tentu saja didominasi unsur rasisme dan sentimen agama (Islamophobia).

Selain itu, pembuatan ulang Robocop dengan menambah embel-embel 2014 ini menyuntik penonton dengan dosis propaganda lebih kuat lagi, bahwa “gun-shoot solution” adalah pemecahan masalah dari segala hal yang dianggap mengancam keamanan masyarakat, seperti versi sebelumnya. “Tembak dan selesai” adalah racun yang terus berulang dijalarkan sineas AS kepada penonton film-film laganya, sejak Uni Soviet masih menjadi musuh utamanya di film-film tahun 80-an.

Tentu saja ini tidak direkomendasikan untuk ditonton anak-anak kita. Jangan sampai AS menguatkan cengkramannya di akal generasi Muslim selanjutnya, seperti yang dilakukan Robocop versi pendahulunya hingga kini. Cukuplah siklus pelecehan terhadap Islam ini terpotong sampai disini, agar tidak ada lagi generasi yang tergila-gila akan robot buatan Hollywood sebagai idolanya.

Sebagai orang tua, sangatlah penting menekankan bahwa semua superhero yang terdapat di tv atau bioskop itu memang “nampak baik”, namun sejatinya mereka hanya tokoh khayalan saja. Tanpa mengurangi daya imajinasi masyarakat, khususnya penonton awam, mengingatkan kembali Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sebagai tokoh nyata pembela kebenaran rahmatan lil ‘alamin adalah kuncinya. Mari kita ingatkan kembali kepada diri dan siapa saja, bahwa selain memusnahkan kejahatan, Rasulullah juga mengubah para pelaku kebatilan itu menjadi baik dengan jalan berdakwah, seperti yang berlaku pada Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan banyak lagi. Masih ada jalan untuk menstabilkan kembali keamanan dan menciptakan kedamaian di muka bumi ini, selain dengan mengangkat senjata, yakni dengan menunjukkan jalan hidayah-Nya.

Pun jika saatnya berperang fisik tiba, yakinlah, bahwa para pejuang Islam memiliki kekuatan yang lebih hebat daripada sekadar Robocop 2014, sebagaimana yang Allah Jala Jalaluh firmankan dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 65, bahwa:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar itu ada di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu daripada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”

Maasyaa Allah, maka kesabaran adalah kunci kekuatan seorang Mujahid Islam. Solusi senjata secanggih apapun tanpa kestabilan emosi, ilmu dan iman, maka pasukan itu tidak ada nilainya sama sekali di Mata Allah subhanahu wata’ala.  

Dan, sekali lagi dengan Qur'an terpatahkanlah satu lagi jarum suntik Hollywood dengan mudahnya. Alhamdulillah. Wallahua’lam bish shawab.

Sabtu, 06 Desember 2014

Sekulerisasi di balik pengosongan kolom agama di KTP

Alasan pengosongan kolom agama di KTP ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan masyarakat awam. Kepada Kiblat.net, Direktur An-Nasr Institute, Munarman SH. menyatakan bahwa ada motif sekulerisasi Indonesia di balik gagasan tersebut, Sabtu (29/12/2014).

Jika kita kaitkan dengan insiden penyerbuan musholla di Riau, penembakan gas air mata yang ditargetkan kepada mahasiswa yang dianggap bersembunyi di sebuah Masjid di Makassar, kemudian pengaturan isi ceramah agama, maka jelas agama dianggap "oposisi" negara. Menurut Munarman, itulah indikasi-indikasi sekulerisasi yang sangat jelas. 

“Ini kan berarti agama dianggap ancaman bagi negara. Ini merupakan paradigma negara-negara kristen di Eropa dulu. Ketika agama Kristen dianggap ancaman bagi negara sekuler mereka,” jelas mantan aktivis LBH Jakarta ini kepada Kiblat.net, Sabtu (29/11) lalu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq, Otista, Jakarta.

Terkait wacana pengosongan kolom agama di KTP Munawarman berpandangan bahwa hal itu sebenarnya dilakukan untuk mengkaburkan data statistik jumlah umat Islam di Indonesia.

“Kalau jumlah umat Islam tidak jelas diketahui, maka tidak ada kewajiban bagi negara untuk memberikan pelayanan untuk memberikan fasilitas-fasilitas. Sekarang ini kan yang ada kalau kita perhatikan di APBD-APBD masih ada bantuan untuk pembangunan masjid, pesantren, kalau jumlah umat Islam secara statistik tidak diketahui, kan tidak ada kewajiban negara,” paparnya.

Bang Maman, begitu sapaan dekatnya, berpendapat ada agenda besar bersembunyi di balik rezim Jokowi menyangkut perkara tersebut. Dengan halus dan sistemik mereka akan melakukan beberapa tahap. “Satu, karena mereka sedang berkuasa secara administrasi kependudukan mereka akan menghapus data statistik,” jelasnya.

“Yang kedua, secara kebijakan mereka akan mengeluarkan produk perundang-undangan berupa pengawasan terhadap dai-dai dengan cara mengatur materi-materi khutbahnya,” tambah Bang Maman.

Ketiga, mereka mengondisikan aparat keaman negara untuk "terbiasa melanggar nilai penghormatan" terhadap masjid sebagai rumah ibadah kaum Muslimin. Dengan kata lain, Rezim Jokowi sengaja memberi ruang atau motivasi kepada aparat hukumnya dalam hal ini adalah kepolisian untuk mengacak-acak masjid.

“Jadi, di belakang penguasa negara ini kan ada kekuatan besar. Sebetulnya yang mereka perkirakan, kekuatan kafir ini akan mampu mengendalikan Indonesia. Saya kira target mereka itu begitu, dengan cara menggunakan tangan-tangan kekuasaan,” pungkasnya.

Ibroh KTP tanpa kolom agama
Maka, terlepas dari siapa "invisible hands" di balik rezim Jokowi, masyarakat jadi harus semakin menguatkan keimanan. Dalam fungsinya sebagai alat kelengkapan administrasi pernikahan misalnya, KTP tanpa kolom agama memberi ibroh tersendiri bagi Ummat Islam.

Sebagai contoh, para orang tua menjadi tertantang untuk lebih selektif memilih calon mantunya, dengan menyelidiki bagaimana ibadah keseharian calon mantunya, jika suatu saat tak ada keterangan agama pada KTP sang pujaan hati anaknya. Jadi, mau tak mau, tidak akan ada lagi istilah "Islam KTP". Setiap orang akan lebih mempertanggungjawabkan keislamannya -meski sekadar ibadah ritual- minimal di hadapan orang di sekitarnya, jika ingin mendapatkan predikat sebagai seorang Muslim di mata manusia.

Tak hanya itu, dengan ini, Muslim sejati akan semakin sangat hati-hati memilih siapa kawan, mitra kerja, bahkan asisten rumah tangganya. Pun sebagai anak bangsa, tentu kita tidak mau mengabaikan perjuangan para Muslim pendahulu yang telah memperjuangkan pengarusutamaan agama agar masuk ke dalam undang-undang yang mengatur administrasi kependudukan di Indonesia. Mari pertahankan hasil perjuangan mereka, jadilah bagian dari perjuangan Muslimin Indonesia sebelum kita.

Allahu akbar, selalu ada hikmah di balik setiap fenomena yang Allah taqdirkan kepada hamba-Nya. Laa hawla walaa quwwata illa billah.