Senin, 10 November 2014

Televisi senjata ampuh merusak generasi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Televisi (TV) bukan barang langka di Indonesia. Hampir di setiap rumah, dari kota besar hingga pelosok desa, terdapat layar bising berbunyi itu. Sepertinya TV menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak dapat dielakan lagi.

Apakah TV sedemikian baik, hingga masyarakat rela merogoh kocek untuk membelinya atau mencicilnya? Orang bilang TV dapat menghibur dan menjadikan pendidikan mudah diakses kapan saja. Ada pula yang mengaku TV dapat membuka dunia baru untuk pemirsa, memberi mereka kesempatan untuk melihat dunia. Dari TV penonton juga dapat belajar tentang budaya yang berbeda, dan mendapatkan paparan ide-ide langka.

Ya, memang jika TV ditonton secara proposional dapat memiliki efek positif pada kehidupan pemirsa. Acara yang memberi teladan peran positif dapat mempengaruhi pemirsa untuk membuat perubahan gaya hidup menjadi positif. Namun, sebaliknya TV juga memberi efek merusak yang luar biasa. Kehidupan pemirsa bisa dipastikan lebih tidak produktif. Penonton menjadi terlena dengan sisi hiburan tinimbang mempelajari hikmah dari apa yang ditayangkan. TV juga dapat mempengaruhi 'kesehatan, perilaku dan kehidupan keluarga dengan cara negatif', sebagaimana dilaporkan para peneliti di Universitas Michigan dalam 10 tahun terakhir.

Maka benarlah firman Allah ta'ala yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alayhi wasallam 1400 tahun yang lalu bahwa,

(27) وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

"Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.” (QS. al-Isra’: 26 – 27)

Kata tabdzir merupakan sikap dan perbuatan berrlebih-lebihan dalam hal harta, sedangkan pelakunya disebut mubazir (Tafsir Zadul Masir, 3:20).

Jika harta kita dudukkan sama pentingnya dengan waktu, maka menghabiskan waktu secara berlebihan untuk menonton televisi juga merupakan fenomena tabdzir. Sebagai mubadzir waktu, pengguna TV menjadi enggan beribadah, melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada sesama mahluk dan kepada Penciptanya. Inilah yang menjadikan manusia pelaku tabdzir dikatakan sebagai temannya setan, sebab perilakunya berubah menjadi terlena dan kian menjauhi perintah Allah. Semoga ayat ini dapat kita jadikan landasan kita untuk berpikir tentang apa peran yang kita inginkan dari TV, baik sebagai individu maupun dalam bermasyarakat.




Sementara itu, para peneliti telah mempelajari bagaimana TV mempengaruhi pola tidur penggunanya, berat badan, nilai hidup, perilaku, dan banyak lagi. Setelah penonton menghabiskan waktu menonton TV beberapa jam setiap hari, dapat dipastikan dia juga menjadi kehilangan waktu untuk melakukan kegiatan sosial, seperti aktif berkegiatan di luar (alam) dengan keluarga atau sebayanya.  Dia juga menjadi enggan makan bersama di ruang makan, atau membaca bersama orang-orang di sekitarnya. TV benar-benar menjauhkan penggunanya dari berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, musik, seni atau aktivitas lain yang mengolah fisik dan perasaan secara aktif. Yang terparah adalah dia kehilangan hasrat untuk melaksanakan kegiatan relijius. Dampak ini juga berlaku bagi mereka yang kerajingan menonton DVD dan bentuk visual digital lainnya, seperti saluran TV kabel secara berlebihan.

Perlu diingat, apa yang terjadi pada penelitian di Universitas Michigan tersebut juga kita dapati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bayangkan, tak hanya fisik dan mental penonton saja yang terkena imbas buruknya, namun hasrat untuk melaksanakan ibadah pun turut tergerus. Lantas Muslim yang mana yang paling terpapar bahaya "layar setan" ini?

Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2000-2025, BPS, BAPPENAS, UNFPA, remaja merupakan populasi terbesar di Indonesia. Jumlah remaja dengan rentang usia 10 – 24 tahun mencapai 64 juta pada tahun 2007 atau 28,64% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dengan demikian, saat ini terdapat lebih dari 64 juta generasi muda Muslim yang terancam akan kehilangan hasrat untuk sholat fardhu 5 waktu, sebab acara yang menarik sengaja diputar pada jam-jam waktu shalat. Jika shalat adalah tiang agama, maka remaja Muslim yang kecanduan TV tak mungkin dapat menjaga tiang agamanya tegak di muka bumi. Jika kecanduan akan TV menjauhkan penonton di barat dari buku, apatah lagi di Indonesia. Bisa-bisa remaja tak hanya jauh dari buku, mereka juga dijauhkan dari Al-Qur'an, buku panduan hidupnya. Jika remaja tergila-gila akan TV, dapat dipastikan Rasulullah shalallahu'alayhi wasallam tidak lagi menjadi idolanya.

Dengan propaganda melalui tayangan TV, sholat tergantikan oleh ritual memencet remote televisi sambil memelototi layar kaca. Dengan dicekoki acara TV, tilawah Qur'an menjadi kegiatan ibadah yang dianggap basi. Dengan mengidolakan artis-artis di TV, remaja pun kehilangan identitasnya sebagai manusia yang shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah, sebagaimana pribadi Nabi kekasih Ilahy.

Hal tersebut didukung oleh laporan penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) bahwa, penonton yang terpapar tayangan TV secara berkelanjutan, terbukti meningkat perilaku merusaknya, disertai tindakan penuh kekerasan. Remaja mengikuti perilaku merokok, meminum minuman keras, mempraktikkan seks bebas dan melakukan kekerasan terhadap orang lain dengan motivasi yang dicontohkan melalui adegan di acara televisi.

Keampuhan televisi sebagai senjata perusak generasi pun kini telah benar-benar terbukti di Indonesia, sesuai hasil survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) sejak tahun 2007, terdapat kasus terkait NAPZA terinspirasi televisi yang terjadi pada remaja, diantaranya adalah meningkatnya perokok aktif hingga 47 %, peminum alkohol aktif 19,2 % dari populasi remaja secara total. Sedangkan jumlah remaja yang hidup dengan HIV dan AIDS sampai dengan bulan Maret 2010 mencapai 54,3% dari 20.564 kasus. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan komplikasi secara fisik, mental, emosional dan sosial.

Selain itu, permasalahan seksual pada remaja berdasarkan survei Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 Provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7 % remaja SMP tidak perawan.  Sementara menurut Kepala BKKBN Pusat Sugiri Syarif tahun 2009, 22,6 % remaja termasuk penganut seks bebas. Perilaku tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan remaja itu sendiri misalnya Penyakit Menular Seksual ( PMS ), HIV/AIDS dan Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Akibat yang terjadi dari kehamilan yang tidak diinginkan salah satunya adalah aborsi.

Berdasarkan data Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2008 didapatkan tidak kurang dari 2,5 juta kasus aborsi ditemukan di Indonesia setiap tahunnya. Ironisnya pelaku aborsi 21,2 % adalah remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman. Sekitar 30-35 % aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu. Astaghfirullah, inilah potret kehancuran sebuah generasi bangsa, yang disinyalir terinspirasi adegan-adegan di televisi, sungguh tidak beruntung.

Maka saatnya kita kembali kepada hakikat tujuan kita sebagai hamba, yakni beriman kepada Allah azza wajalla. Mari kita kembali menjadi mu'min (orang beriman) yang beruntung, yang tidak kepada TV selalunya bergantung. Sebagaimana yang dicirikan dalam QS. Al-Mu'minun ayat 1-11, inilah orang-orang yang beruntung:

 قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ

(1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.

 ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ

(2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sholat.

وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

(3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

(4) Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

(5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.

إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

(6)  Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.

 فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

(7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

(8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.

 وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

(9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sholatnya.

 أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

(10) Mereka itulah yang akan me­warisi.

 ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

(11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.

Waallahua'lam bishowab.